INGATLAH SELALU AKAN ALLAH

"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).

Sabtu, 27 November 2010

Menyelaraskan Otak Berfikir & Otak Emosional

Tidak mudah menyelaraskan kedua otak tersebut. Tapi kita harus berani

mencobanya.



HASIL penelitian Daniel Goleman, pengarang "Emotional Intelligence",

tentang otak dan ilmu perilaku yang dimuat "The New York Times", menarik untuk

dikaji. Dikatakannya, sesungguhnya kita memiliki 2 otak, satu yang berpikir

(otak berpikir) dan satu yang merasakan (otak emosional). Biasanya, otak

berpikir itu kita sebut otak kiri, dan otak emosional kita sebut otak kanan.

Maksudnya, apa-apa yang kita ketahui ada di otak berpikir, dan apa-apa yang

kita rasakan ada di otak emosional. Saya kira, dikotomi emosional dengan

berpikir kurang lebih sama denagn istilah "hati" dengan "kepala".



Sebenarnya mana yang lebih dulu terjadi? menurut penelitiannya itu,

Goleman menyebutkan, bahwa otak emosional ternyata terjadi lebih dulu sebelum

otak berpikir. Lantas, sebenarnya apa segi manfaat yang bisa kita petik dari

penelitiannya itu, khususnya bagi kita yang bergerak di dunia usaha?



Saya kira, penelitian ini mengingatkan kita, bahwa di dalam kita

menggeluti dunia usaha, sebaiknya bisa menyelaraskan antara otak berpikir dan

otak emosional. Keselarasan kedua otak itu bagi kita sangat dibutuhkan,

terutama di dalam kita mengambil keputusan penting dalam bisnis. Keselarasan

kedua otak itu bagi kita sangat dibutuhkan, terutama di dalam kita mengambil

keputusan penting dalam bisnis. Keserasan itu akan membuat kita lebih tepat dan

bijaksana dalam mengambil keputusan bisnis terlebih di saat persaingan bisnis

seperti sekarang ini yang kerap kali menghadapkan kita kepada rentetan

pilihan-pilihan cukup banyak.



Apalagi, kedua otak tersebut, yang emosional dan yang berpikir, pada

umumnya bekerja dalam keselarasan yang erat, saling melengkapi, saling terkait

di dalam otak. Dimana, emosi memberi masukan dan informasi kepada proses

berpikir atau pikiran rasional. Sementara pikiran rasional memperbaiki dan

terkadang memveto masukan emosi tersebut. Tapi sebaliknya, jika saja keduanya

tak ada keselarasan atau katakanlah otak emosional-lah yang dominan serta

menguasai otak berpikir, maka keseimbangan kedua otak itu akan goyah. Kita akan

cenderung tidak bisa berpikir jernih, suka bertindak gegabah dan sering

melakukan kesalahan fatal dalam setiap mengambil keputusan penting dalam

bisnis. Kalau dominan otak berpikir, maka kita hanya sekadar bersikap analitis,

dan mengambil tindakan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Akibatnya

menimbulkan hilangnya kegairahan dan antusiasme bisnis.



Oleh karena itu, kita jangan sampai kehilangan keselarasan kedua otak

tersebut. Sebab, seperti yang juga ditegaskan oleh Dr. damasio, seorang ahli

neurologi, bahwa perasaan atau emosi biasanya sangat dibutuhkan untuk keputusan

rasional. Otak emosional kita akan menunjukkan pada arah yang tepat. Maka,

adalah tindakan yang tepat, jika mulai sekarang kita bisa mengatur emosi kita

sendiri.



Dalam konteks ini, saya sependapat dengan pakar manajemen, Dr. Patricia

Patton. Yang mengatakan, bahwa untuk mengatur emosi, kita bisa melakukan dengan

cara belajar, yaitu: Pertama, belajar mengidentifikasi apa biasanya yang memicu

emosi kita dan respon apa yang kita berikan. Kedua, belajar dari kesalahan,

belajar membedakan segala hal di sekitar kita yang dapat memberikan pengaruh

pada diri kita. Ketiga, belajar selalu bertanggung jawab terhadap setiap

tindakan kita. Keempat, belajar mencari kebenaran, belajar memanfaatkan waktu

secara maksimal untuk menyelesaikan masalah, dan kelima, belajar menggunakan

kekuatan sekaligus kerendahan hati.



Saya sendiri juga merasakan, bahwa dampak positif dari terciptanya

keselarasan kedua otak itu juga akan memunculkan tindaka-tindakan produktif,

membuat kita semakin mantap dalam berbisnis, dan pada akhirnya akan berdampak

positif bagi kemajuan bisnis kita.



Singkatnya, keselarasan itu sangat berkaitan dengan pemberdayaan diri

kita. Dimana, kita mesti bisa mengontrol diri, dan menggunakan akal sehat. Dan,

tentu saja, keselarasan itu tidak akan terwujud kalau kita masih juga memegang

teguh sifat mementingkan diri sendiri. Sehingga, seorang wirausahawan yang bisa

menyelaraskan otak berpikir dan otak emosionalnya, akan sangat mungkin lebih

berhasil dalam bisnisnya. Boleh jadi peluang menjadi wirausahawan yang

kompeten, bernilai, profisional, dan bahagia akan lebih bisa dicapai. Meski tak

mudah kita menyelaraskan kedua otak tersebut, tapi saya yakin, kita harus

berani mencobanya.
Sumber : http://www.purdiechandra.com

0 komentar: