INGATLAH SELALU AKAN ALLAH

"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).

Sabtu, 23 Juli 2011

Nasehat Rasulullah SAW Menyambut Ramadhan


Selain memerintahkan shaum, dalam menyambut bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan ketika memasuki bulan Ramadhan.
Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat..... Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin.

Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya.

Kasihilah anak-anak yatim
, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai manusia, sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.
Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”
Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”
Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.

Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.

Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.
Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”
“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”
“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”
“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”
Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”
“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”
“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”
“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”
“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).


Sumber : Puasa bersama Rasulullah, Pengarang : Ibnu Muhammad (Pustaka Al-Bayan Mizan)

Minggu, 17 Juli 2011

3 kunci dalam menghadapi cobaan

3 kunci dalam menghadapi cobaan
  • Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh..

    bismillah..



    adakala sering kali kita terlupa akan apa yang ada pada diri kita masing-masing, segala yang masih melekat, segala yang masih utuh dan masih sempurna dalam takaran masing-masing..

    dan tak jarang pula, pikiran bahwasannya kitalah orang yang penuh dengan masalah, kitalah orang yang selalu miskin, kitalah orang yang selalu terkena musibah, juga anggapan bahwa kitalah orang yang akan selalu kaya raya melebihi yang lainnya.. yah.. itulah anggapan yang salah. Sangat salah dan benar-benar salah..



    sebenarnya, apa yang ada di dalam pikiran kita itu hanyalah sebatas penglihatan, perasaan yang bernilai Kabur. Kita tidak benar-benar tau apa sejatinya yang ada didalam setiap permasalahan, ujian dan cobaan, juga dibalik semua itu.



    Ada beberapa kunci yang selama ini telah coba saya terapkan, beberapa kunci yang menjadi penelitian saya sejak sebuah penyakit telah menggerogoti separuh tubuh saya, juga sejak saya menyadari betapa besar kesalahan yang pernah saya lakukan dimasa lampau, Juga tentang Nisa.



    3 hal itu adalah... hadapi, hayati, nikmati..



    kenapa harus itu



    sebab sebuah permasalahan tidak akan pernah menjadi selesai selama kau tak pernah mau untuk menghadapinya.. mungkin hanya terlewat tapi tidak terselesaikan “ yang namanya terlewat, hanya dilewati untuk nantinya dihadapi dibelakang”. Jangan pernah ada kata lari.. dalam menghadapi permasalahan dan cobaan. Sebab ia takkan pernah menjadikan mudah, hanya semakin memperparah. Berdo'a, Berusaha dan bangkit untuk melangkah kedepan menembus kabut yang melanda itu lebih baik, lebih nikmat dari pada lari meninggalkan permasalahan.



    Sebuah permasalahan tidak akan pernah membuat pikiran kita berkembang dan dewasa dalam menyikapi segala hal jika kita tidak pernah menghayatinya. Mereka adalah orang yang sejatinya hanya bisa mengeluh dan menyerah. Tidak pernah tau betapa indahnya perjuangan menuju kehidupan yang lebih baik, dan tidak pernah tau betapa nikmatnya hasil jerih payah dalam bertahan hidup dan berbuat yang lebih. Pastinya ia bukanlah orang yang pernah memperjuangkan hal yang sepatutnya untuk diperjuangkan. Berbeda dengan orang yang menghayati segala hal yang tengah melanda dirinya, dialah orang yang takkan pernah terkalahkan oleh permasalahan dan selalu bangkit tanpa kenal kata Menyerah. Dia lah orang yang akan selalu tumbuh dewasa pikirnya sebab belajar dari hal yang sebelumnya.



    Sebuah permasalahan tidak akan pernah menjadi sebuah hal yang berat dan hal yang menyiksa bila kita mampu untuk menikmatinya. Hanya orang yang merugi yang tidak bisa merasakan betapa nikmatnya hal itu.



    Sahabat, jangan pernah berpikir.. karna kita kaya dan kita bahagia kita lebih merasa tinggi dan lebih dari segalanya di atas saudara yang lain..

    jangan pernah kita berpikir karna kita miskin lalu kita menyatakan kita lah orang yang paling menyedihkan dan tidak beruntung dibanding yang lainnya.

    Jangan pernah kita berpikir hanya karna kita masih sehat lalu dengan seenaknya kita berbuat sesuka hati pada diri kita juga orang lain. Dan menghina mereka yang terkena musibah(sakit)

    jangan pernah kita berpikir hanya karna sebuah penyakit yang tengah menggerogoti tubuh kita jadi seenaknya menyerah merasa tak berdaya.



    Semua itu adalah permasalahan, cobaan, juga ujian..



    jangan jadikan kaya kita menjadikan diri kita sombong dan lupa, jangan pula menjadikan miskin kita menjadikan diri kita jauh..



    kita yang sabar dengan kekayaan dalam menjaga amanah Nya.

    Kita yang qona'ah dengan ketidak punyaan kita, kemiskinan kita dalam menghadapi ujiannya.

    Dan kita yang istiqomah dalam sehat maupun sakit.



    Jangan pernah rela bila mereka membolak balikkan iman mu, sahabat..

    bersama kita bisa, bersama kita melangkah.. saling bergandeng tangan dalam 1 cahaya demi sebuah 1 tujuan yang nyata.. Ridho' Ilahi..  insyaallah..



    sekian yang bisa jingga tuliskan malam ini, semoga bermanfaat bagi kita semua.. amien..



    wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh..

Kamis, 26 Mei 2011

Islam Bukan Teroris - suar.okezone.com

Islam Bukan Teroris

Islam Bukan Teroris

Rabu, 18 Mei 2011 - 12:08 wib
Isu terorisme terus bergulir. Terakhir diberitakan, adegan mirip dalam game counter strike terjadi di daerah Sukoharjo. Peristiwa ini menewaskan 3 orang yang terdiri dari 2 orang terduga teroris dan 1 pedagang angkringan atau di Solo biasa disebut "warung hik". Hal ini sama halnya dengan eksekusi tanpa siding dan pembuktian terlebih dahulu.

Seringkali banyak kejanggalan-kejanggalan aneh ketika terjadi peristiwa teror maupun saat penyergapan teroris tersebut. Hingga berkembang di masyarakat, isu teroris ini adalah konpirasi tingkat tinggi yang sarat akan muatan politis dengan berbagai motifnya. Seperti halnya kasus di Sukoharjo baru ini, sebagaimana penjelasan TPM Solo dalam konsperesi pers (14/5/2011), bahwa terduga Sigit tidak punya senjata api, beberapa barang bukti yang ditemukan Densus 88 berupa senjata laras panjang ternyata hanyalah senapan angin yang biasa digunakan berburu oleh ortunya, dan uang sejumlah puluhan juta yang diketemukan adalah pemberian orang tua juga hasil penjualan sepetak tanah di Mojosongo, supaya digunakan untuk membeli rumah di Wonogiri.

Barang lain seperti sebuah samurai yang ditemukan oleh Densus adalah milik kakeknya Sigit yang diberikan oleh Keraton Surakarta. Rompi juga milik orang tua Sigit yang dibeli dari Jakarta. Bahkan, soal serbuk arang warna hitam yang ditemukan oleh polisi di rumah tersebut, hanya bahan untuk merias temanten. Karena, orang tua Sigit sebagai perias dan penyewakan pakaian untuk temanten. Menurut koordinator TPM, Anies Prijo, jika semua itu tidak ada hubungannya dengan yang didakwakan Sigit. (antaranews.com, 16/5/2011)

Komnas HAM mencatat Densus 88 banyak melakukan salah tangkap dan tak mengindahkan norma-norma yan berlaku. KONTRAS juga merilis, pendekatan senjata api banyak dilakukan oleh Densus 88 dalam dua tahun terakhir. Setidaknya, dari 6 operasi antiterorisme di tahun 2010 ada 24 orang tewas tertembak, 9 luka terkena timah panas, 420 ditangkap dan diproses hukum. 19 orang menjadi korban penangkapan sewenang-wenang akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti terlibat terorisme. (Media Indonesia.com, 16/5/2011).

Ifdhal Khasim, Ketua KOMNAS HAM pernah mengatakan bahwa penangkapan yang diikuti penahanan tersebut sering kali tidak diindahkan hak-hak orang yang di antaranya hak untuk mendapatkan penasihat hukum. Pihak keluarga juga sering kali tidak diberi akses informasi yang memadai.

Ada Apa dengan War On Terrorism?

War on Terrorism biasa disebut hanyalah sebagai topeng untuk memerangi Islam, hal ini terbukti dari beberapa fakta yang terekam di lapangan, bahwa AS lebih banyak menginvasi ke negeri-negeri Islam, daftar teroris mayoritas adalah umat Islam. Sangat aneh ketika Israel yang jelas-jelas melakukan tindakan teror terhadap warga Palestina tidak dicantumkan ke daftar teroris, sedangkan Hamas dalam mempertahankan negerinya untuk mengusir penjajah Zionis dimasukkan dalam daftar teroris mereka. Bukti lain, mayoritas korban adalah masyarakat Islam, mereka juga sering menggunakan istilah; teroris Islam, militan Islam, Radikal Islam. Hal yang tidak disematkan kepada Teroris yahudi (Israel), Teroris hindu (macan tamil), bahkan kalau mereka mau jujur, mereka sangat layak menyandang gelar teroris kristen.

Pascaruntuhnya komunis yang dipimpin Uni Soviet, satu-satunya ancaman terhadapap dominasi Amerika Serikat terhadap dunia dengan Ideologi kapitalismenya, otomatis hanyalah tinggal Islam, dengan catatan Islam diterapkan sebagai sebuah Ideologi. Samuel P Hutington dalam bukunya “who are you?” mengatakan ” bagi barat, yang menjadi musuh utama bukanlah fundamentalis Islam, tapi Islam itu sendiri”. Sedangkan menurut mereka Ideologi Islam memiliki beberapa kriteria, yakni seperti yang diungkap Mantan PM Inggris Tony Blair saat konggres buruh (16/ Juli/2006). Ia menjelaskan ”Islam sebagai Ideologi Iblis: ingin mengeliminasi Israel, menjadikan syariat sebagai sumber hukum, menegakkan khilafah dan bertentangan dengan nilai-nilai liberal.”

Maka dari itu, untuk membendung potensi pesaing ini, Amerika Serikat melakukan berbagai cara guna menanggulanginya. Bermacam kebijakan mereka tempuh, salah satunya dengan melakukan invasi militer secara langsung terhadap negeri-negeri Islam, selain itu, mereka juga melancarkan perang pemikiran (ghoswul fikri) secara masif sehingga terbukti lumayan ampuh membuat umat Islam sendiri meninggalkan Ideologinya, termasuk menanamkan antek-anteknya di berbagai negara untuk memuluskan niat jahat mereka.

Kebijakan perang fisik mereka gunakan untuk melumpuhkan seteru-seteru Ideologi mereka di kawasan Timor tengah dan lainnya, sedangkan kebijakan perang non fisik (perang pemikiran) di tempuhnya di seluruh negri Islam, baik yang di duduki secara militer maupun tidak.

Di Indonesia Pemikiran Amerika (barat) telah berhasil merengsek masuk ke berbagai sendi kehidupan, (ekonomi, sosial, budaya, politik, dst). Untuk mensukseskan upayanya ini mereka juga menciptakan kader-kader intelektual dari tubuh kaum Muslim itu sendiri yang telah dicuci otaknya sehingga mindset berfikirnya pun telah berubah menjadi mindset berfikir yang bukan lagi Islam, melainkan pro terhadap Amerika dan bahkan cenderung memusuhi Ideologi Islam.

Saking pentingnya perang pemikiran ini, sekretaris menteri pertahanan AS Wolfowitz merekomendasikan: ”saat ini, kita sedang bertempur dalam perang melawan teror, perang yang akan kita menangkan. Perang yang lebih besar yang kita hadapi adalah perang pemikiran, jelas suatu tantangan. Tetapi yang (ini) juga harus dimenangkan”. Bermacam sarana dan prasarana mereka gunakan, diantaranya dengan mengintervensi pendidikan, yakni mengatur kurikulum pendidikan yang berbasis sekulerisme, termasuk kurikulum-kurikulum pesantren yang sudah banyak digembosi melalui dana-dana bantuan yang mereka salurkan.

Peran Media Massa

Media massa punya kontribusi besar dalam mempengaruhi hati dan pemikiran masyarakat, karena itu kami berharap rekan-rekan media lebih adil dan objektif dalam pemberitaannya. Jangan sampai terpengaruh dengan rekomendasi-rekomendasi tidak sehat berikut ini:

Culumbus dan Wolf dalam tulisannya (Pengantar hubungan Internasional hal.186-187) mengatakan ” salah satu fungsi bisnis propaganda adalah memonitor, mengklasifikasi, mengevaluasi, dan mempengaruhi media massa. Para wartawan, kolumnis, komentator, dan pembuat opini yang dianggap bersahabat biasanya diundang ke kedutaan besar. Pihak kedutaan besar biasanya memberikan informasi eksklusif,bila perlu menawarkan bonus. Di negara-negara barat, peran dinas propaganda luar negeri sangat luar besar. Hal ini mengingat opini publik, kelompok penekan, dan media massa terlibat terus menerus untuk mempengaruhi kebijakan sebuah negara”.

Ariel Cohen Ph.d (pengamat) juga pernah merekomendasikan ”AS harus menyediakan dukungan kepada media lokal untuk membeberkan contoh-contoh negatif dari aplikasi syariah”. Sedangkan Cheril Bernard mengatakan: “ide-ide yang harus terus menerus diangkat ialah menjelekkan citra Islam: perihal demokrasi dan HAM, poligami, sanksi kriminal, keadilan Islam, minoritas, pakaian wanita,kebolehan suami untuk memukul istri”. (Cheril Benard, Cicil democratic Islam, partners, resources, and strategies, the rand corporation halaman.1-24).

Yang harus dilakukan umat Islam

Umat Islam sudah seharusnya mengambil langkah-langkah strategis untuk meminimalisir dampak-dampak negatif dari ”war on terroris” yang dilancarkan Amerika Serikat dan sekutunya ini. Ada beberapa langkah yang harus ditempuh diantarannya:

Membina umat, terutama para intelektualnya dengan pemikiran Islam yang Ideologis. Berdakwah dengan tanpa kekerasan. Menjelaskan kepada umat secara umum atas kepalsuan ide-ide selain Islam (counter opini) seperti Kapitalisme, sosialisme, sekulerisme, pluralisme, Liberalisme Dst. Dan melakukan dakwah yang bersifat politis dengan mengajak umat untuk menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Jika itu sudah dilakukan, maka Allah sendiri yang akan membalikkan makar sebagaimana tercermin dalam firman-Nya. Allah SWT berfirman: “Mereka membuat Makar dan Allah pun membuat Makar. Dan Allah itu Maha Pembuat Makar”. (QS. Ali Imran : 54).

Apapun bentuknya, tidakan teror yang menyelesihi syara’ jelas dilarang di dalam Islam, apalagi sebuah tindakan teror yang telah ditunggangi oleh pihak-pihak yang ingin memperburuk citra Islam. Satu hal yang perlu dicatat, perang melawan teroris berarti harus ada pelaku teror dan kejadian teror di tempat itu, jika tidak ada, alasan apa yang akan digunakan untuk memerangi teroris. Maka tidak heran lagi ketika ada salah seorang artis Holliwood yang mengatakan bahwa “G.W.Bush ada dibalik serangan WTC” beberapa tahun lalu yang telah dimanfaatkan AS untuk memerangi Teroris. (sumber: eramuslim.com)

Karena itu, kami berharap pihak berwenang lebih profesional dan transparan dalam menangani kasus terorisme. Citra kepolisian yang akhir-akhir ini cukup membaik sebagai partner sehat masyarakat, jangan biarkan kembali suram. Sungguh, Islam bukan teroris. Wallahu a'lam.

Ali Mustofa
Direktur Riset Media Surakarta
- suar.okezone.com

Minggu, 08 Mei 2011

BENARKAH KESABARAN ADA BATASNYA.....???

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)
Pengertian Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Macam-Macam Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
  1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
  2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
  3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Sebab Meraih Kemuliaan
Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih.
Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).
Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta’ala berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra’d [13] : 24).
Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).
Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala, “Dan Kami menjadikan di antara mereka (Bani Isra’il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375)
SABAR DALAM KETAATAN
Sabar Dalam Menuntut Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.
Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)
Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.
Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul, hal. 13)
Sabar Dalam Berdakwah
Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”
Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka.
Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni.” (Taisirul wushul, hal. 13-14)
Sabar dan Kemenangan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami.” (QS. Al An’aam [6]: 34).
Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da’i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da’i ini meskipun dia sudah mati.
Maka wajib bagi para da’i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Demikianlah, tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, ‘Dia adalah tukang sihir atau orang gila’.” (QS. Adz Dzariyaat [51]: 52). Begitu juga Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa.” (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya para da’i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Sabar di atas Islam
Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122). Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122-123)
Lihatlah keteguhan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya bersumpah mogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan, “Wahai Ibu, demi Allah, andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar, sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini…” (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 133) Inilah akidah, inilah kekuatan iman, yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan.
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam.
Mereka disakiti, diperangi, didustakan, dituduh yang bukan-bukan, bahkan ada juga yang dikucilkan.Adayang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara, namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan mereka.
Ingatlah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 102).
Ingatlah juga janji Allah yang artinya, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3).
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan.” (HR. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah, hal. 148) dan Al Haakim dalam Mustadrak ‘ala Shahihain, III/624). (Syarh Arba’in Ibnu ‘Utsaimin, hal. 200)
Sabar Menjauhi Maksiat
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur’an.
Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk).”
Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, “Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat, “Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 40).
“Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta’ala. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.
Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan.” (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.” (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)
Sabar Menerima Takdir
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)
Sabar dan Tauhid
Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, “Bab Minal iman billah, ash-shabru ‘ala aqdarillah” (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah)
Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullahu ta’ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini, “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.
Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari’at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari’at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.
Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari’at serta menjauhi larangan syari’at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa ‘ala untuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir.
Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adalah sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa ‘ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Allah ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu’.”
Maka hakikat pengutusan Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.
Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.”
Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri, semoga Allah merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah.
Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib.
Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, “Qutila fulan shabran” (artinya si polan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar’i.
Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syari’at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”
Perkataan beliau “Bab Minal imaan, ash shabru ‘ala aqdaarillah” artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang.
Maka dengan perkataan “Minal imaan ash shabru” beliau ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan bahwa niyaahah (meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran. Sehingga setiap cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan. Meratapi mayit adalah sebuah cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan” (At Tamhiid, hal.389-391)

Rabu, 30 Maret 2011

UMAT ISLAM, AYO BANGKIT

Kita sadar, umat sering diadu domba. Kita tahu, ukhuwah masih terseok-seok. Tapi apakah kita berpura-pura tidak mau mengakui kenyataan ini atau memang tidak mau untuk kembali bangkit? Pertanyaan ini pernah terlontar dari seorang kawan yang berprofesi sebagai jurnalis.
Di negeri yang mayoritas Muslim, seperti Indonesia, sering kali media massa menjadikan Islam sebagai pihak tersudut. Indepedensi media yang telah terkontaminasi oleh banyak kepentingan acap menyudutkan Islam di hampir setiap kasus yang melibatkan kepentingan umat. Kasus jadi mencuat, lalu dibesar-besarkan atau diputarbalikkan.
lhasil, informasi yang diolah, sering melukai hati umat Islam.
Fenomena ini amat menyedihkan. Menusuk relung hati. Frame media yang menyudutkan umat terjadi berulang kali. Kasus terorisme, penangkapan ulama, kasus HKBP, Ahmadiyah, dan sebagainya. Peristiwa yang melibatkan umat kadang dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk ‘mencuci otak’ khalayak dengan menggiring opini seolah Islam sebagai agama yang suka kekerasan, agama yang suka berbuat onar, agama yang tidak menghargai hak asasi manusia, dan sebagainya.
Berita semacam ini dikonstruksikan sedemikian rupa. Dicetak atau diputar berulang-ulang. Dikemas dalam beragam acara diskusi di layar kaca dengan menghadirkan nara sumber yang cenderung menitik beratkan kepentingan yang tak memihak umat. Akhklak media massa telah terkikis. Tergerus oleh rating yang mendulang rupiah. Masa bodoh dengan masa depan akidah.
Ironis, umat belum memiliki kekuatan mendobrak agenda setting media. Siaran atau informasi yang terserak dan dikonsumsi masyarakat semakin jauh dari nilai Islami, baik informasi dalam berita atau tayangan lain. Kemasan acara yang jarang memuat nilai edukasi terus dibiarkan. Protes demi protes seperti angin semilir yang jarang didengar pihak media. Ketika hadir media massa yang menyiarkan/menyebarkan nilai Islami, pamor media itu masih kalah telak. Umat pun jarang meliriknya.
Gerakan diet televisi, matikan televisimu, atau tinggalkan televisi; belum banyak mengubah moral bangsa ini, khususnya dalam konteks menggerakkan kebangkitan umat Islam Indonesia. Sebaliknya, kesadaran untuk kembali kepada nilai Quran dan Sunnah semakin jauh. Ulama sebagai pewaris nabi tinggal sedikit yang mau bergerak dari kampung ke kampung, dari pintu ke pintu. Jarang kita temui ustadz yang berdakwah seperti cara para wali dahulu. Jarang pula di setiap ba’da Maghrib kita dengar lantunan Quran di rumah-rumah.
Dengan kondisi ini, kita malah sering mendengar teriakan tegakkan syariat Islam, dirikan khilafah Islamiyah. Melihat realita umat, hal ini seperti utopis. Bukan untuk melemahkan semangat atau bersikap pesimis. Namun, sepertinya sulit merealisasikan penegakan syariat Islam di negeri ini bila melihat kondisi kita masih lemah; kelemahan mengembangkan nilai Islami dalam mendidik anak, kelemahan ekonomi, ukhuwah, penguasaan ilmu Islam, kelemahan strategi pengumpulan, pengolahan dan penyebaran informasi hingga kepentingan umat dinjak-injak media, serta kelemahan lain.
Kita sadar, umat sering diadu domba. Kita tahu, ukhuwah masih terseok-seok. Tapi apakah kita berpura-pura tidak mau mengakui kenyataan ini atau memang tidak mau untuk kembali bangkit? Pertanyaan ini patut kita renungkan. Sesama umat masih banyak yang saling caci, adu jotos, dan mementingkan bendera kelompok, organisasi, atau partai. Bukan kepentingan Dinnul Islam secara kaffah. Kekerasan bernuansa agama yang mengakibatkan darah tumpah masih terjadi di antara umat. Banyak pula umat Islam yang masih membela kelompok yang jelas-jelas mendangkalkan akidah. Sebaliknya, persaudaraan di tubuh non Muslim; Nasrani maupun Yahudi semakin kuat.
Mari bercermin, mereka rela mengeluarkan sejumlah hartanya untuk menolong sesamanya. Bagaimana kekuatan persaudaraan mereka dalam mengangkat harkat martabat ekonomi kaumnya yang lemah, membuat sekolah bonafit bagi siswa mereka yang kurang mampu, menyediakan lapangan pekerjaan bagi kaumnya yang menganggur, menggalang ragam bantuan bagi kaumnya yang sakit, dan sebagainya. Atau Yahudi yang memilih memutarkan uangnya di kalangan mereka sendiri. Semaksimal mungkin mereka menjaga agar perputaran uang tak lari dari kaumnya.
Rasulullah yang membawa nilai ukhuwah, justru dipraktekkan oleh mereka yang non Muslim. Alangkah naif, dari sekian juta rakyat miskin di negeri ini didominasi umat Islam. Lalu, kemana orang-orang kaya kita? Mengapa potensi zakat (fitrah dan mal) belum mampu mendongkrak kesejahteraan umat? Untuk apa menggalang kekuatan di parlemen tapi kesejahteraan dan pendidikan umat di kalangan bawah kian berantakan?
Bagaimana mungkin masih bisa menikmati hidup di mobil mewah tapi masih cuek dengan para gembel yang menahan lapar? Bagaimana mungkin paham dengan sejarah kehidupan, perjuangan, kesederhanaan Rasul dan Sahabat tapi dalam kesehariannya kita tetap bermewah-mewahan? Untuk apa berteori ukhuwah bila dengan lingkungan sekitar tak peka. Ini bisa saja masih kita alami.
Sebab, bisa jadi, ketika bersama istri dan anak-anak kita bahagia tapi kita tak tahu bahwa kakak kandung, adik kandung, saudara, atau tetangga kita ada yang berteriak kelaparan, berteriak kesulitan membiayai pendidikan buah hatinya. Kadang kita mementingkan kepentingan terlalu besar, tapi kebutuhan krusial dari orang terdekat terlupakan. Kebutuhan fundamental untuk memajukan umat dilalaikan.
Hingga kini tetap ada sekolah Islam terpadu (TKIT, SDIT, dll) yang memang berkualitas tapi masih harus mensyaratkan biaya menjulang. Jarang bisa disentuh oleh masyarakat yang kurang mampu. Kelengkapan fasilitas sekolah dan kualitas didik yang baik memang membutuhkan biaya besar, tapi apakah memang benar-benar tak bisa menjangkau umat yang miskin? Adakah sekolah Islam dimana pihak yayasan atau pengelolanya tak meraih keuntungan? Sepertinya lembaga pendidikan Islam telah beralih kepada orientasi bisnis, kurang memprioritaskan pada ketulusan mencerdaskan umat.
Mungkin salah satu indikasi ini bisa terekam dari kebanyakan sekolah Islam terpadu yang siswanya didominasi dari kalangan menengah ke atas. Muslim yang miskin lebih banyak menyekolahkan siswanya di sekolah negeri--yang maaf, barangkali, kurikulum dan out poutnya standar. Masih banyak pula generai umat yang putus sekolah lantaran tak ada biaya. Jika demikian, dimana peran aktif pengelola/yayasan sekolah Islam? Sejauh mana kesungguhan mencerdaskan umat seperti yang tertera dalam visi atau brosur-brosur lembaga pendidikan Islam yang disebar di jalan-jalan, di banyak tempat.
Allah SWT berfirman: Dan hendaklah takut orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, khawatir terhadap mereka. Karena itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan benar (An Nisa, ayat 9).
Tanggung jawab besar terhadap masyarakat miskin memang ada di pundak pemerintah. Tapi alangkah indahnya bila seluruh pengelola sekolah Islam di negeri ini bisa mengambil alih peran pemerintah dalam hal memberi pendidikan bagi umat lapisan bawah. Menjadi oase bagi anak-anak jalanan yang putus sekolah. Alangkah eloknya bila potensi zakat benar-benar dimanfaatkan secara optimal mengangkat derajat kehidupan kaum dhuafa. Betapa bahagianya, sesama umat saling membantu keperluannya.
Kemajuan suatu umat atau bangsa tak bisa dipisahkan dari pendidikan dan ukhuwah/persatuan. Jika pendidikan umat masih mahal, sulit rasanya untuk memajukan Islam. Ini berkorelasi erat dengan kekuatan ukhuwah. Bila ukhuwah kita sudah kuat, tentu, akan semakin banyak sekolah Islam berkualitas dirasakan oleh umat yang ekonominya rendah. Pada saatnya umat tak mudah dicekoki dengan informasi yang mampu mendangkalkan akidah. Sulit untuk diadu domba. Lebih cepat untuk bergerak maju.
Rasulullah berwasiat agar kita membantu orang-orang fakir. “Sekalipun hanya secuil kurma atau setetes air.” Hal itu diulangi hingga tiga kali. Makna hadits di atas menunjukkan manusia harus memberi uluran tangan kepada orang lain dan memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Sekalipun pemasukannya terbatas, hendaknya ia tetap membantu orang yang lebih miskin darinya. Orang yang hidup bahagia bersama istri dan anaknya, ia harus berusaha membagi kebahagiaannya ke dalam kehidupan orang lain, semampunya. Hal ini harus diajarkan kepada seluruh anak-anak, baik pria dan wanita. (Husain Mazhahiri: Pintar Mendidik Anak, 1999).
Untuk mewujudkan kebangkitan Islam, mari bercermin pada non Muslim yang benar-benar mempraktekkan kekuatan ukhuwah, mengoptimalkan nilai Islami yang dibawa Rasulullah. Lalu, mari bandingkan dengan kualitas ukhuwah kita saat ini. Kita masih harus belajar lagi memperbaiki kualitas ukhuwah di segala bidang. Terutama mengasah kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Selanjutnya, barulah kita bisa bergerak untuk kemudian berjuang menegakkan syariat Islam di negeri ini.
Kita sadar, umat sering diadu domba. Kita tahu, ukhuwah masih terseok-seok. Kembali ke pertanyaan awal: Apakah kita berpura-pura tidak mau mengakui kenyataan ini atau memang tidak mau untuk kembali bangkit? Duhai saudaraku, mari kuatkan ukhuwah. Ayo, bangkitkan kekuatan itu! Barangkali bisa diawali dengan lebih memperhatikan dan membantu lingkungan terdekat, semampu kita. Semoga... Wallahu ‘alammu.

Sabtu, 29 Januari 2011

KAROMAH PARA WALI ALLAH


Sabda Rasulullah SAW

“Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah ada beberapa orang yang dirindui para nabi dan syuhada. Ditanya kepada baginda: “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Baginda menjawab: “Mereka adalah kaum yang saling mencintai dengan cahaya Allah, bukan atas dasar harta dan hubungan keluarga. Wajah mereka bercahaya,mereka berada diatas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya,mereka tidak merasa takut ketika manusia ketakutan,mereka juga tidak pernah sedih ketika manusia bersedih hati” (HR Nasai & Ibnu Hibban) . Lalu Nabi SAW membacakan ayat ini, tapi saya tidak pasti dari surah mana:

“Ingatlah! Sesungguhnya wali-wali Allah tidak memiliki ketakutan dan tidak pula bersedih hati”

Jika dilihat dari sudut pandangan 4 mazhab,tidak ada satu mazhab pun yang menolak karomah ini. Karomah adalah kejadian luar biasa yang tidak diikuti dengan pengakuan kenabian. Manakala Mu’jizat muncul dari orang yang mengaku Nabi Allah. Karomah biasanya terjadi kepada hamba yang nyata kesholehannya,selalu mengikuti Sunnah Rasulullah dan menjalankan syariat dengan keyakinan yang benar.

Timbul persoalan masyarakat masa kini diantara perbezaan Karomah dan Sihir. Jawabnya adalah bahawa Sihir itu timbul dari tangan orang yang fasiq,zindik dan kafir yang berada diluar agama,percaya kepada kuasa selain Allah dan bukan mengikut Sunnah dan Syariat Nabi SAW. Sedangkan Karomah tidak terjadi kecuali kepada orang yang bersungguh-sungguh dalam mengikuti syariat sehingga mencapai puncak Ma’rifatullah.

Ketahuilah bahawasanya para Wali adalah orang-orang yang mengenal ALLAH SWT menurut kemampuan mereka dalam ketaatan,menjauhi maksiat dan berpaling dari terjerumus kedalam nafsu-syahwat. Sepertimana sabda Rasulullah SAW:

“Terdepanlah orang-orang yang menyepikan diri”. Baginda ditanya “Siapakah mereka wahai Rasulullah? ”. Maka Baginda menjawab ”Mereka adalah orang yang sangat senang dengan mengingati Allah. Allah meletakkan zikir yang berat-berat untuk mereka,hingga mereka mendatangi Allah pada hari kiamat dengan ringan.” (HR Muslim dan Tirmizi)

1)
Diantara kenyataan terjadinya Karomah telah tersebut didalam Al-Quran. Diantaranya adalah kisah Maryam dan puteranya Isa AS yang telah lahir tanpa perantaraan suami. Juga fenomena ajaib yang terjadi pada diri Maryam ketika dijaga Nabi Zakaria AS. Allah SWT berfirman:

“Setiap kali Zakaria masuk kepada Mihrab(yang diduduki) Maryam, ia mendapati disisinya rezeki(makanan). Zakaria bertanya: “Dari mana kamu dapatkan rezeki ini ?” Ia menjawab “Ini(makanan) dari Allah.”

Padahal tidak ada masuk ke mihrab itu selain dirinya,apabila Nabi Zakaria AS keluar dari ruangan Maryam,ia pasti mengunci semula pintunya, dan dia mendapati disamping Maryam jenis makanan(buahan) kemarau dimusim hujan dan buahan hujan dimusim kemarau..SUBHANALLAH

2)
Juga kisah penghuni gua (Ashabul Kahfi). Mereka adalah sekelompok orang-orang mukmin yang takut imannya berubah kerana raja mereka. Maka mereka telah keluar dari negerinya dan mereka masuk kedalam gua. Mereka telah tinggal didalamnya tanpa makanan dan minuman selama 309 tahun dalam keadaan tidur tanpa sakit atau mati. Allah SWT berfirman:
“Kamu lihat: ketika matahari terbit…….dan mereka tinggal di gua itu selama tiga ratus Sembilan tahun”

3)
Demikian juga kisah Ashif,seorang menteri Nabi Sulaiman. Ketika Nabi Allah Sulaiman berkata kepada pasukannya. “Wahai para pembesar,siapakan diantara kamu yang dapat mendatangkan istana Ratu Balqis sebelum mendatangiku dengan menyerah dan masuk Islam?”. Ketika itu,rombongan Balqis hanya jauhnya 1 fasakh lagi dari kerajaan Nabi Sulaiman AS.

Maka berkata Ifrit dari bangsa Jin. “Saya akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu”. Maka Nabi Sulaiman membalas. “Aku mahu yang lebih cepat dari itu”

Maka berkata Ashif Bin Barkhaya, setiausaha nabi Sulaiman. Dia sangat jujur dan mengetahui rahsia nama Allah yang Maha Dasyat yang apabila berdoa dengan Nama itu, maka doa itu akan terkabul,dan apabila meminta kepadaNYA,IA akan memberi.
“Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu membalikkan(mengembalikan) pandanganmu.”

4)
Begitu juga kisah Karomah para sahabat,tabi’in dan orang-orang selepasnya hinggalah sekarang ini. Telah Mutawatir peristiwa-peristiwa ini. Diantaranya ialah kisah Umar RA. Ia berkata: “Wahai Sariyah berlindunglah digunung,berlindunglah digunung.”. Ketika dalam khutbahnya pada hari Jumaat. Secara langsung suara itu terdengar oleh Sariyah dan dengan spontan dia berlindung dari musuh di satu tempat digunung itu. Dalam hal ini, Umar memiliki 2 Karomah iaitu nampaknya keadaan Sariyah dan sahabat-sahabat muslim yang lain beserta keadaan musuh. Dan yang kedua sampainya suara Umar kepada Sariyah yang berada dinegeri yang jauh..Subhanallah

Antara riwayat lain adalah bahawasanya Umar RA berkata kepada singa yang menghalangi jalan umum: “Menyingkirlah” kemudian singa itu mengibas-ngibas ekornya lalu pergi. Kemudian Umar berkata: “Benarlah Rasulullah bersabda” . “Barangsiapa takut kepada Allah, maka Allah akan membuat takut kepadanya segala sesuatu” (HR Abussyaikh,Al-Hakim dan Rafi’ie dalam kitab Amali-nya)

5)
Banyak lagi kisah dan riwayat yang telah tersebut didalam kitab-kitab hadis,antaranya Hadis Bukhari. Jika saudara-saudara ingin tahu lebih banyak lagi mengenai karomah para wali Allah ini, silalah membaca dan mempelajari manaqib-manaqib mereka. Anataranya manaqib Quthubul Aulia Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Wallahu A’alam.

Senin, 24 Januari 2011

h, semua orang lebih fakih dari Aku

Dalam hidup ini, Allah pasti jumpakan kita dengan orang-orang yang luar biasa. Kalau kita tidak bisa mengeja tarbiyah-Nya, itu murni karena kekurangpekaan kita, atau kita malah sudah mati rasa sehingga tidak bisa mengambil pelajaran dari kejadian yang ada disekitaran kita. “Fa`tabirû yâ ulî l-abshâr.”Karenanya, belajar dari episode kehidupan di sekeliling kita adalah sebuah kemustian agar kita menjadi lebih baik, dari waktu ke waktu.




Semoga kisah-kisah berikut ini bermanfaat :



Siang itu, ada sms yang masuk, “Akh, ana minta dijemput di masjid al Karim, -Pabelan.”



Mendapatkan sms dari seorang teman yang baru selesai dari acara outbondnya, aku langsung menuju tempat yang dimaksud. Sesampainya di sana, aku tidak mendapati temanku. Langsung saja aku balik kirim sms, “Antum dimana? Sudah sampai mana?”



Beberapa detik kemudian, ada jawaban yang muncul di layar hape K310-ku, “Ana masih di perjalanan. Kira-kira seperempat jam lagi.” Ah, berarti aku harus menunggu dulu. Heu..kenapa tidak bilang bahwa ia belum sampai masjid ini, dan memberi keterangan sampai seperempat jam kemudian. But, no problem lah. Masa menunggu itu aku pergunakan untuk beristirahat dengan merebahkan tubuhku di atas lantai masjid bagian depan.



Ketika tengah merebahkan badan, ada seorang ibu yang tengah melewati pintu gerbang masjid. Ia berpakaian kumal, tertambal sana-sini tidak karuan. Kelelahan tersirat jelas dari raut wajahnya karena berjalan tanpa tujuan. Ia pun tampak kelaparan. Entah berapa kali ia tidak makan. Melihatku, ia beranikan diri meminta. Dari jarak sekitar 4 meter itu –jarak gerbang dengan serambi masjid-, ia menengadahkan tangannya, dan berkata memelas, “Mas, minta uangnya.” Langsung. Polos. Tanpa basa-basi.



Sejenak aku mengamatinya, dan memintanya untuk mendatangi tempatku berbaring. Ia mendekat, dan aku bangkit dari tidurku kemudian merogoh kantong. Kuberi uang dua lembar seribuan. Hanya 2000 rupiah. Seperti biasa, ia berucap terima kasih. Tetapi ada yang istimewa dari sekedar terima kasihnya. Ternyata ia membaca, “Alhamdulillah, subhanalllah.” Sambil melihat-lihat uang dua ribu yang sangat berharga, menurutnya.



Ia memegang erat-erat uang dua ribu itu, dan menimang-nimangnya seolah mendapatkan sesuatu yang diidamkan. Ia terus berucap hamdalah dan tasbih tanpa henti. Bahkan ketika berada di pintu gerbang masjid pun, ia masih menatapku seolah menyiratkan rasa terima kasihnya yang amat sangat. Selain itu, ia juga masih melihat uang dua ribu itu, sembari meletakkan di depan dadanya dan masih berucap, “Alhamdulillah, subhanallah.” Berulang-ulang.



Ucapnya, “Alhamdulillah, subhanallah.” berulang-ulang itu benar-benar menegurku. Dalam hati, kuberucap lirih, “Subhanallah.” Ah, semua orang memang lebih fakih daripada aku…..



Dulu, ada seorang tukang angkut yang selalu berucap tahmid dan istighfar. Satu waktu mengangkut air, ia berucap tahmid, dan waktu yang lain ia beristighfar. Selalunya begitu. Di tengah aktivitasnya mengangkut itu, ada seorang ulama` yang memperhatikannya. Dialah Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau meminta lelaki itu untuk berkunjung ke rumahnya. Selama di rumah, beliau mengamati lisan tamunya dengan seksama. Ada dzikir yang senantiasa keluar dari lisan tamunya. Beliau takjub dengan kebiasaan lelaki itu, dan hatinya tak bisa menahan untuk tidak bertanya. Tanyanya, “Kalau boleh tahu, sejak kapan anda selalu berucap tahmid dan istighfar setiap kali anda mengangkut air?” “Sudah lama.” Jawabnya. Imam Ahmad kembali bertanya, “Kenapa hanya dua kalimat thoyyibah itu saja?” ia menjawab, “Karena kita berada di antara dua hal; nikmat Allah yang harus kita syukuri dengan memuji-Nya, dan kelalaian yang selalu membersamai kita sehingga kita harus memohon ampunan-Nya.” Imam Ahmad kembali bertanya, “Apa faedah dan manfaat yang kamu dapatkan dengan kebiasaanmu itu?” “Banyak. Tidak ada kebutuhan yang aku inginkan kecuali dikabulkan oleh Allah Ta’ala”jawabnya “Tetapi ada satu permintaan yang sampai saat ini belum diperkenankan.” “Apa itu?” Tanya Imam Ahmad penasaran. Lelaki itu menjawab, “Aku belum pernah bertemu dengan Imam Ahmad.”



Imam Ahmad kemudian memeluknya, dan memberitahukan bahwa beliaulah yang selama ini dicari-carinya. Lelaki itu terkejut, dan tak henti-henti memanjatkan puji syukur kepada Allah Ta’ala. Allah telah mengabulkan semua pintanya. Subhanallah. Dan ketika lelaki itu pulang, Imam Ahmad tertegun, dan berkata, “Ah, semua orang lebih fakih dari Ahmad, semua orang lebih fakih dari Ahmad.”



Dalam kisah yang lain, tersebut sebuah kisah singkat tetapi mengandung pelajaran berharga. Umar bin Khattab radhiyallahu `anhu, khalifah kaum muslimin ke-dua, mendengarkan sebuah lantunan doa yang dipanjatkan oleh salah seorang rakyatnya. Doanya, “Ya Allah, jadikanlah aku golongan yang sedikit… Ya Allah, jadikanlah aku golongan yang sedikit…” begitu terus, berulang-ulang hingga Umar bin Khattab bosan mendengarnya. Beliaupun bertanya dengan suara keras, “Wahai hamba Allah, apa yang kamu maksudkan dengan doamu, “Ya Allah, jadikanlah aku golongan yang sedikit?” lelaki itu menjawab, “Aku ingin dimasukkan Allah menjadi golongan yang sedikit, karena Dia pernah berfirman, “Wa qalîlun min `ibadiya s-syakûr.” Dan memuji orang yang beriman, “Wa mâ âmana ma`ahu illâ qalîl.” Begitulah, aku ingin dimasukkan sebagai golongan yang sedikit yang dipuji oleh Allah.” Umar terdiam, dan pergi dengan berlinang airmata sembari berkata, “Ah, semua orang lebih fakih dari Umar. Ah, semua orang lebih fakih dari Umar.”



Saudaraku…, dalam mengarungi episode hidup ini, kita akan dipertemukan Allah dengan orang-orang yang memiliki amalan yang mungkin tidak kita miliki. Ada amal-amal andalan yang mereka punya. Seperti halnya rizki, dimana semua orang diberi sesuai dengan ketentuan Dzat yang memiliki perbendaharaan langit dan bumi, maka begitu pula dengan amal. Masing-masing sudah ditakdirkan memiliki amalan-amalan yang menjadi kelebihan mereka. Ada yang Allah mudahkan menjaga shalat berjama`ah dan shalat sunah rawatibnya, ada yang Allah mudahkan melaksanakan shalat malam, ada yang Allah mudahkan menangis karena Allah semata lantaran teringat semua dosa-dosa-nya hingga seolah-olah dosa seluruh manusia dibebankan kepadanya, ada yang Allah mudahkan bersedekah, ada yang Allah mudahkan berdzikir sepanjang waktunya, ada yang Allah mudahkan berbagi dengan orang lain, dan kemudahan-kemudahan dalam amal yang lainnya.



Dari sinilah, kita harus sadar diri; jangan ada anggapan bahwa diri kita lebih baik dari orang lain, hatta kepada orang yang kita anggap tak berpendidikan sekalipun, pun begitu juga kepada orang banci. Ada pesan indah dari Sirri as Saqathi yang diabadikan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab monumentalnya, Shifatus shafwah. (Huem, maraji` andalan nieh ^_^).



جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ نَصِيْرٍ يَقُوْلُ : سَمِعْتُ الْجُنَيْدَ يَقُوْلُ : سَمِعْتُ السِّرِّيَّ قَالَ : مَا أَرَى لِيْ عَلَى أَحَدٍ فَضْلًا قِيْلَ : وَلَا عَلَى الْمُخْنِثِيْنَ؟ قَالَ : وَلَا عَلَى الْمُخْنِثِيْنَ



Ja’far bin Muhammad bin Bashir berkata, Aku mendengar Junaid berkata, Aku mendengar as Sirri berkata, “Aku tidak pernah berpendapat bahwa aku memiliki keutamaan atas orang lain.” Ada yang bertanya, “Tidak juga atas orang-orang yang banci.” Beliau menjawab, “Tidak juga atas orang-orang yang banci.”



Karena, menganggap diri lebih baik dari orang lain, dan mengangap ada orang yang lebih buruk darinya adalah kesombongan. Nasehat Abu Yazid al Busthami, yang juga disebutkan oelh Ibnul Jauzi dalam kitab yang sama, Shifatus shafwah, perlu kita renungkan bersama,



وَقَالَ أَبُوْ يَزِيْدٍ: مَا دَامَ الْعَبْدُ يَظُنُّ أَنَّ فِي الْخَلْقِ مَنْ هُوَ شَرٌّ مِنْهُ فَهُوَ مُتَكَبِّرٌ.



Abu Yazid berkata, “Selama seorang hamba menganggap bahwa ada orang yang lebih buruk daripada dirinya maka ia adalah orang yang sombong.”



“Ah, semua orang lebih fakih daripada aku.”



Wallahu a`lam.



Salam ukhuwah dari akhukum fillah.